590 Difabel dari 24 Provinsi Berpartisipasi dalam Temu Inklusi Nasional ke-6 di Cirebon
CIREBON, (divipromedia.com)– Sebanyak 590 penyandang disabilitas dari 24 provinsi di Indonesia resmi mengikuti Temu Inklusi Nasional ke-6 yang digelar di Desa Durajaya, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon. Selasa, (2/9).
Agenda dua tahunan ini berlangsung pada 2–4 September 2025 dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi difabel, pemerintah desa, serta masyarakat setempat.
M. Joni Yulianto, Penanggung Jawab Temu Inklusi Nasional ke-6 sekaligus Direktur Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia, menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat praktik baik inklusi di tingkat lokal maupun nasional.
“Temu Inklusi bukan hanya agenda seremonial, tetapi ruang berbagi praktik baik, ide, dan gagasan untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih inklusif,” ujar Joni dalam sambutan pembukaan.
Ia menambahkan, Kabupaten Cirebon dipilih karena memiliki daya tarik budaya sekaligus praktik baik dalam pengarusutamaan isu difabel yang dapat direplikasi oleh daerah lain.
Selama kegiatan, para peserta tinggal bersama masyarakat di rumah-rumah warga Desa Durajaya. Konsep ini tidak hanya menghadirkan interaksi langsung, tetapi juga menjadi sarana kampanye sosial agar masyarakat lebih memahami kehidupan dan kemandirian difabel.
“Masyarakat bisa melihat bagaimana teman-teman difabel beraktivitas. Sebaliknya, difabel juga bisa menunjukkan kemandiriannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Joni.
Salah satu peserta, Khusnul Khatimah, difabel Tuli asal Makassar, menyampaikan apresiasinya. Ia menyebut Temu Inklusi menjadi pengalaman paling berkesan dibandingkan kegiatan organisasi difabel yang pernah ia ikuti.
“Ini event penting bagi difabel, organisasi, dan pemerintah. Kami belajar bersama tentang bagaimana memenuhi hak-hak difabel, sekaligus mempererat persaudaraan antar komunitas,” tutur Khusnul.
Dengan kehadiran ratusan difabel dari berbagai daerah, Temu Inklusi Nasional ke-6 diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat jejaring advokasi, meningkatkan kesadaran publik, dan mewujudkan masyarakat yang lebih ramah terhadap keberagaman, pungkas khusnul. **(AFIF/Divi)
