Antisipasi Dini! Ekonom Dorong Pemerintah Kendalikan Perlambatan Ekonomi saat Ramadhan

Ilustrasi bazar pada bulan suci Ramadhan. ANTARA/Dokumen ANTARA

Meski pemerintah menghitung insentif itu bisa menurunkan harga tiket pesawat hingga 13-14 persen, namun menurut Bhima, dampak keuntungannya relatif kecil mengingat harga tiket pesawat cenderung lebih mahal pada periode tersebut dibandingkan ketika hari biasa.

“Pemudik, terutama yang lintas pulau, juga sudah melakukan pembelian tiket penerbangan 1 bulan sebelumnya untuk mendapatkan harga yang lebih murah,” kata dia lagi.

Selain itu, berakhirnya diskon listrik pada akhir Februari lalu, juga diperkirakan akan mendorong masyarakat untuk menahan belanja dan mengalihkan dana ke tabungan.

Suntikan dari tunjangan hari raya (THR) pun dianggap belum cukup kuat untuk memitigasi dampak dari kemungkinan-kemungkinan tersebut.

“Artinya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 diperkirakan akan rendah ya, meski ada Ramadhan dan Lebaran, tapi sulit berada di angka 5 persen,” ujarnya pula.

Menimbang berbagai kemungkinan itu, Bhima meminta pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan, termasuk efisiensi belanja dan dukungan terhadap industri padat karya.

“Efisiensi belanja jangan mengarah pada gangguan layanan publik yang esensial dan belanja penting, atau disebut dengan austerity measures. Pulihkan sektor industri padat karya, jangan hanya fokus menarik investasi baru yang butuh waktu,” kata Bhima lagi. (Imamatul Silfia/Antara) ***

Pasang Iklan di Divi Pro Media