Ekonomi Bisnis

Antisipasi Dini! Ekonom Dorong Pemerintah Kendalikan Perlambatan Ekonomi saat Ramadhan

JAKARTA, (Divipromedia.com). – Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira meminta pemerintah untuk memitigasi potensi perlambatan ekonomi saat Ramadhan.

Saat dihubungi di Jakarta, Senin (03/3), Bhima mengatakan aktivitas ekonomi saat Ramadhan kali ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya, efisiensi belanja pemerintah, efektivitas insentif, tantangan aktivitas ekspor-impor, hingga inflasi yang terbilang rendah.

PHK memicu tekanan dari sisi pendapatan, sehingga masyarakat yang terdampak kehilangan kemampuan belanja.

Sama halnya, efisiensi belanja pemerintah juga mempengaruhi kemampuan belanja. Di sisi lain, aktivitas ekonomi pelaku usaha juga turut terdampak.

Pasalnya, efisiensi belanja pemerintah menyasar aktivitas yang bisa mengurangi permintaan pada sejumlah sektor, seperti akomodasi, perhotelan, restoran, hingga sewa kendaraan.

Menurunnya permintaan ini disebut juga akan mempengaruhi pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada saat Ramadhan dan Lebaran.

Menurut dia lagi, rendahnya inflasi pun turut memperkuat indikasi lemahnya sisi permintaan.

Untuk diketahui, ekonomi Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,09 persen (year-on-year/yoy) pada Februari 2025. Deflasi secara tahunan ini merupakan yang pertama sejak Maret 2000.

Selanjutnya, aktivitas ekspor-impor juga dinilai masih menantang akibat adanya perang dagang. Bhima berpendapat, tantangan ini akan mendorong kelompok menengah ke atas untuk memilih menyimpan tabungan alih-alih membelanjakan uang mereka.

Bhima pun menyoroti efektivitas insentif yang digelontorkan oleh pemerintah, salah satunya insentif pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) sebesar 6 persen pada pembelian tiket pesawat selama periode mudik Lebaran.

Exit mobile version