Daerah

Balai Bahasa Maluku Utara Revitalisasi 8 Bahasa Daerah: Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Nusantara

TERNATE, (Divipromedia.com). – Balai Bahasa Maluku Utara (Malut) akan merevitalisasi delapan bahasa daerah guna mencegah kepunahan dari bahas ibu di provinsi tersebut.

“Kami akan melakukan revitalisasi bahasa daerah di Malut, karena dari 19 bahasa itu, satu di antaranya bahasa Ibo di Halmahera Barat, yang kini hanya memiliki satu penutur saja,” kata Kepala Balai Bahasa Malut Arie Andrasyah Isa di Ternate, Selasa (25/2).

Selain itu, delapan bahasa daerah lainnya mengalami penurunan jumlah penutur. Bahasa-bahasa tersebut meliputi bahasa Ternate, Tobelo, Makean Dalam, Sula, Sahu, Buli, Bacan, dan Makean Luar. Untuk mencegah kepunahan, Balai Bahasa Malut melaksanakan program revitalisasi terhadap bahasa-bahasa tersebut pada 2025.

Dia menjelaskan, pihaknya gencar melakukan revitalisasi bahasa daerah dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, enam bahasa telah direvitalisasi, yakni bahasa Ternate, Makean Dalam, Sula, Sahu, dan Buli. Tahun ini, revitalisasi diperluas dengan menambahkan bahasa Bacan dan Makean Luar.

“Meskipun enam bahasa tersebut sudah direvitalisasi tahun lalu, kami tetap melakukan pengawalan agar pelestariannya berkelanjutan. Kami juga telah menyusun empat kamus bahasa daerah, yaitu Kamus Bahasa Sahu, Buli, Makean Dalam, dan Sula dialek Faahu sebagai penunjang pelestarian,” ujarnya.

Menurut Arie, kemunduran bahasa daerah disebabkan oleh berkurangnya penggunaan bahasa ibu di kalangan generasi muda, khususnya mereka yang berusia di bawah 30 tahun. Salah satu faktor penyebabnya adalah perkawinan silang.

“Contohnya, jika seorang ibu berasal dari Ternate dan ayah dari Makian, anak mereka cenderung menggunakan bahasa Melayu sebagai alat komunikasi dalam keluarga, sehingga bahasa daerah sulit diwariskan,” jelasnya.

Meski demikian, bahasa Sula dinilai masih relatif terjaga karena anak-anak di wilayah tersebut masih diajarkan bahasa ibu dalam lingkungan keluarga.

Exit mobile version