Headline

Kisah Inspiratif Siswi SMP di Cirebon: Yatim Piatu, Namun Tetap Berprestasi dan Kejar Cita-cita

CIREBON, (divipromedia.id) – Keterbatasan ekonomi dan kehilangan orang tua tak menyurutkan semangat Ayunda Putri Mauldya (13), siswi kelas VII SMP Negeri 2 Sumber, Kabupaten Cirebon, untuk terus bersekolah dan meraih prestasi.

Yunda yang kini tinggal bersama kakaknya di Blok Karang Bawang, Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber, menjalani kehidupan sederhana dengan mengandalkan penghasilan sang kakak sebagai tulang punggung keluarga.

Sejak kecil, Ayunda sudah menghadapi kenyataan pahit. Ibunya meninggal saat ia masih berusia delapan bulan, sementara ayahnya wafat pada 2024, tepat menjelang dirinya masuk SMP.

“Kalau mama meninggal saat Yunda umur delapan bulan, kalau ayah tahun 2024 lalu, pas mau masuk SMP,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah, Ayunda hanya mengandalkan uang saku sekitar Rp35.000 per hari. Dari jumlah tersebut, Rp20.000 digunakan untuk keperluan sekolah, sementara sisanya untuk kebutuhan di rumah.

Meski hidup dalam keterbatasan, Ayunda tetap tegar. Namun, ia tak menampik rasa sedih kerap muncul saat melihat teman-temannya masih memiliki orang tua.

“Sedih, karena teman-teman masih ada orang tuanya, sedangkan aku tidak,” ucapnya lirih.

Di tengah kondisi tersebut, Ayunda memilih fokus pada pendidikan. Ia aktif dalam kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) dan menunjukkan peningkatan prestasi akademik. Saat duduk di bangku sekolah dasar, ia berada di peringkat tujuh, dan kini berhasil naik ke peringkat empat di tingkat SMP.

“Alhamdulillah sekarang ranking 4,” katanya.

Ayunda mengaku menyukai mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Ia pun memiliki cita-cita mulia menjadi seorang guru.

“Pengen jadi guru,” ujarnya singkat.

Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Sumber setelah lulus nanti.

Kepala SMP Negeri 2 Sumber, Kemas Muhammad Saleh, memastikan pihak sekolah akan memberikan perhatian penuh terhadap keberlangsungan pendidikan Ayunda. Ia menyebut, Ayunda telah masuk dalam daftar penerima Program Indonesia Pintar (PIP).

“Kami akan berupaya maksimal. Tahun ini Ayunda sudah masuk PIP sebagai salah satu solusi untuk membantu kebutuhannya,” ujarnya.

Menurutnya, sekolah tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga memastikan masa depan siswa tetap terarah agar tidak putus sekolah.

“Dia ingin melanjutkan ke SMA. Dengan program wajib belajar, jangan sampai ada anak yang putus sekolah,” tegasnya.

Kemas juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan berbagai pihak dalam menangani persoalan pendidikan, khususnya bagi siswa dari keluarga kurang mampu.

“Ini tanggung jawab bersama, termasuk dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon,” katanya.

Sementara itu, paman Ayunda, Iwan, mengaku kerap merasa iba melihat kondisi keponakannya. Ia sering membantu kebutuhan Ayunda, mulai dari mengantar ke sekolah hingga membelikan perlengkapan belajar.

“Kadang saya belikan buku tulis atau perlengkapan sekolah. Kalau lihat dia melamun, saya suka tanya sudah makan atau belum,” ungkapnya.***

Exit mobile version