Pertarungan antara AI ChatGPT dan DeepSeek serta Potensi Ekonomi untuk Indonesia

Logo DeepSeek, perusahaan AI asal China. (ANTARA/deepseek.com)

DeepSeek memanfaatkan kekuatan ini dengan baik, menciptakan platform yang mampu memahami dan memproses berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah.

Kemampuan multibahasa ini sangat relevan bagi Indonesia, yang memiliki keragaman linguistik yang tinggi.

Misalnya, DeepSeek dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi pendidikan berbasis AI yang mampu beradaptasi dengan bahasa lokal, sehingga memudahkan akses pembelajaran bagi masyarakat di daerah terpencil.

Selain itu, integrasi DeepSeek dengan ekosistem digital China, seperti WeChat, Alibaba, dan Baidu, memungkinkan pengguna Indonesia untuk mengakses layanan AI secara lebih mulus dalam kehidupan sehari-hari.

Dampak ekonomi

Dari sisi ekonomi, persaingan antara DeepSeek dan AI buatan AS, seperti ChatGPT, membawa dampak positif bagi Indonesia.

Dengan adanya alternatif yang lebih murah, Indonesia dapat mengadopsi teknologi AI, tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Hal ini, terutama bermanfaat bagi sektor UMKM, yang dapat memanfaatkan DeepSeek untuk analisis pasar, manajemen inventaris, atau bahkan pemasaran digital.

Menurut laporan PwC (2022), pasar AI global diprediksi akan mencapai nilai 1,5 triliun dolar AS pada 2030, dan Indonesia memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pertumbuhan ini.

Ketua Komtap AI APTIKNAS Karim Taslim menyatakan bahwa persaingan AS-China dalam AI membuka peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan teknologi terbaik, dengan biaya yang lebih kompetitif.

Apalagi Deepseek muncul setelah mempelajari kelemahan dan kekurangan existing GenAI. Maka, seperti pebisnis yang membuka bisnis baru di atas kompetisi yang ada, biasanya dia sudah punya kartu as dan mengetahui kelemahan kompetitor.

Di sisi lain, menurut Karim, yang juga Founder Indonesia AI Innovation Challenge dan COO – PT. Terre Tech Nusantara itu, kehadiran DeepSeek juga membawa tantangan yang perlu diantisipasi, salah satunya adalah masalah keamanan data.

Sebagai produk China, DeepSeek tunduk pada regulasi pemerintah China yang ketat, yang mungkin menimbulkan kekhawatiran tentang privasi pengguna.

Amnesty International (2023) memperingatkan bahwa penggunaan teknologi China di luar negeri dapat menjadi alat untuk pengawasan dan pengumpulan data.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu memastikan bahwa penggunaan teknologi AI, seperti DeepSeek, tidak melanggar privasi warga negara.

Regulasi yang ketat dan transparan diperlukan untuk melindungi data pengguna, sekaligus memastikan bahwa teknologi ini digunakan untuk kepentingan publik.

Pasang Iklan di Divi Pro Media