Wamenpar: Peluang dan Tantangan Dua Desa Wisata di Yogyakarta

Tantangan dan peluang di dua desa wisata yang ada di Yogyakarta. (ANTARA/HO-Kemenpar)

YOGYAKARTA, (Divipromedia.com).- Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa dalam kunjungannya ke dua desa wisata yang ada di Yogyakarta yakni Desa Wisata Tinalah dan Desa Wisata Pandanrejo, mengatakan terdapat peluang yang cukup besar dan berikut tantangannya.

“Kunjungan kali ini untuk melihat keunggulannya dan kemudian apa yang perlu untuk kita kembangkan bersama-sama,” kata Wamenpar Ni Luh Puspa melalui keterangan resmi yang diterima ANTARA, Sabtu (25/1/2025).

Peluang yang bisa dimanfaatkan oleh dua desa ini melalui alamnya yang memiliki keindahan luar biasa. Hal tersebut terdapat pada Desa Wisata Tinalah, desa ini berlokasi di antara Sungai Tinalah dan Pegunungan Menoreh.

Sehingga, lokasi ini memiliki potensi yang cukup besar jika dimanfaatkan untuk objek pariwisata karena memiliki berbagai hal positif seperti keindahan alam, budaya, wisata sejarah, hingga menjadi salah satu lokasi studi banding desa wisata di Yogyakarta.

Dengan keindahan alam yang cukup menjanjikan ini, tak ayal sebanyak 9 ribu wisatawan sudah mengunjungi lokasi tersebut sepanjang tahun 2024 yang lalu.

Sementara diselimuti dengan berbagai keindahan di dalamnya, pihak Kemenpar menilai terdapat beberapa tantangan yang tidak mudah seperti pengadaan toilet bersih dan pengelolaan sampah TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle). Sebab health and hygiene menjadi salah satu aspek utama dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI).

Jika hal tersebut bisa ditangani dengan baik dan segera, Tinalah yang merupakan salah satu desa wisata penyangga Destinasi Super Prioritas Kawasan Borobudur ini, bisa menambah kembali catatan prestasi baru di tahun 2025.

Catatan prestasi yang sudah ditorehkan desa wisata tersebut pada tahun 2024 di antaranya adalah Silver Award Employing and Upskilling Local Communities Responsible Tourism Awards Southeast Asia 2024.

Selanjutnya ada juga dari Tourism Entrepreneurial Marketing Award 2023 kategori Silver Local Community Empowerment dan Event, Creative Tourism Destination Award 2022 MarkPlus Tourism kategori Gold Digital, dan Silver SDGs & Youth.

Selai itu, tidak kalah menariknya adalah desa wisata yang ada di Pandanrejo. Lokasi yang masih berada di deretan Perbukitan Menoreh menawarkan pengalaman berwisata yang asri khas perdesaan dan memberikan edukasi. Salah satu yang paling menonjol adalah ternak kambing peranakan etawa (PE) ras Kaligesing.

Lokasi wisata tersebut mempercayakan masyarakat setempat untuk mengelola beberapa aktivitas, yang juga dapat meningkatkan taraf kehidupan mereka di sana. Pada tahun 2023 omzet yang diperoleh masyarakat desa mencapai Rp1,3 miliar.

Untuk terus melanjutkan kesuksesan desa wisata itu, pihak pengelola melakukan kolaborasi dengan Kementerian Pariwisata pasca mereka meraih penghargaan untuk pendampingan dan juga evaluasi yang kemudian dilanjutkan dengan program pelatihan dan pendampingan serta promosi.

Tidak hanya itu, peran Poltekpar NHI Bandung telah berhasil meningkatkan kemampuan masyarakat Desa Wisata Tinalah dalam mengolah hasil susu kambing menjadi beragam produk olahan seperti bolu pisang susu kambing, seiring pembuatan paket-paket wisata.

Meski demikian, terdapat beberapa catatan yang membangun untuk pengembangan desa ini. Catatan tersebut berfokus pada peningkatan aksesibilitas karena kendaraan bus dengan kapasitas di atas 50 seat belum tersedia, kemudian Desa Wisata Pandanrejo baru mempunyai sentra oleh-oleh dan belum ada skema koperasi untuk pengelolaannya.

“Saya sangat mengapresiasi kerja-kerja dari teman-teman yang mengelola desa wisata, termasuk juga perangkat pemerintahannya. Karena desa wisata ini benar-benar mampu menggerakkan ekonomi masyarakatnya,” kata Wamenpar. *** (Chairul Rohman/Antara)

Pasang Iklan di Divi Pro Media