Wow! Kampung Kopi Luwak: Harum Liberika yang Mendunia
Kolaborasi dengan Pertamina
Siapa sangka, di balik secangkir kopi luwak yang nikmat, tersimpan kisah inspiratif tentang pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Berkat kolaborasi PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan kelompok petani kopi Kapak Prabu, kampung ini menjelma menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik.
Tidak hanya menawarkan cita rasa kopi luwak yang autentik, Kampung Kopi Luwak juga memberikan edukasi tentang proses budidaya kopi liberika yang ramah lingkungan dan konservasi luwak.

“Dulu, luwak dianggap hama. Sekarang, masyarakat sadar bahwa luwak berperan penting dalam menghasilkan kopi luwak yang bernilai ekonomi tinggi,” ungkap Dony Indrawan, Manager Communication Relations & CID Pertamina Hulu Indonesia.
Perubahan paradigma itu berdampak positif pada peningkatan jumlah wisatawan. Rindoni, Ketua Kelompok Tani Kapak Prabu, mengungkapkan bahwa kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara melonjak lebih dari 200 persen sejak kampung mereka dikembangkan menjadi eduwisata.
Dampak positif juga dirasakan dari sisi ekonomi. Pendapatan anggota kelompok tani meningkat signifikan, dari Rp3.285.294 per bulan di tahun 2022 menjadi Rp4.788.323 per bulan.
“Kami menjual berbagai jenis kopi liberika, mulai dari honey, luwak liar process, wine, hingga natural process. Omset penjualan mencapai Rp72 juta per tahun,” jelas Rindoni.
Keberhasilan Kampung Kopi Luwak tidak membuat mereka berpuas diri. Rencana ke depan, mereka akan membangun sistem pengolahan kopi komunal terpadu dengan mengadopsi sistem pencatatan dari bank sampah.
“Sistem ini bertujuan untuk menjaga kualitas biji kopi liberika. Semua proses pengolahan, mulai dari cherry hingga green bean, dilakukan di rumah kopi Kampung Kopi Luwak,” tambah Rindoni.
Kisah sukses Kampung Kopi Luwak menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat dapat menciptakan kemandirian ekonomi, melestarikan lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jadi wisata edukasi
Kopi liberika memang cocok ditanam di Kalimantan Timur yang memiliki dataran rendah. Dahulu, kopi liberika hanya untuk konsumsi lokal. Namun, Rindoni melihat peluang besar di tengah menjamurnya generasi penikmat kopi baru.
“Kopi luwak dari sini lain daripada yang lain,” ujar Rindoni bangga.
Kopi luwak Prangat Baru memiliki aroma buah yang kuat dan rasa yang unik. Rasa woody, manis tipis, dan fruity bercampur menjadi satu.
Sensasi rasa yang “clean” setelah diteguk meninggalkan kesan yang mendalam, membuat ingin menyeruput lagi dan lagi.
Tak heran, kopi luwak Prangat Baru dibanderol dengan harga fantastis, Rp4,5 juta per kilogram.
Rindoni bertekad menjadikan kopi luwak Prangat Baru sebagai merek andalan Kalimantan Timur.
Ia optimistis kualitas kopi luwak Prangat Baru mampu bersaing dengan kopi luwak dari daerah lain.
Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik sempat singgah di lokasi yang berada pada titik KM 60 jalan poros Samarinda-Bontang itu, menyeruput kopi, dan berbincang tentang potensi ekonomi yang terpendam.
“Rasanya belum ada desa yang memanfaatkan jalan raya ini. Padahal potensinya besar sekali,” kata Akmal Malik, sembari melihat geliat lalu lintas di jalur penghubung antar-kabupaten tersebut.
Sebuah rest area representatif dengan UMKM lokal berjajar menawarkan produk unggulan, menjadi persinggahan yang nyaman bagi para pelintas. Itulah mimpi yang ingin diwujudkan di Kampung Kopi Luwak.
Kepala Desa Perangat Baru Fitriati mengungkapkan rest area sudah tersedia, namun masih perlu penataan lanjut. Akmal Malik pun sigap, meminta BBPJN meratakan lahan dan menyerukan gotong royong mewujudkan mimpi tersebut.
Tak hanya infrastruktur, Akmal juga mendorong pemasaran produk lokal, terutama kopi liberika unggulan Kampung Kopi Luwak.
“Pasang informasi di selasar bandara. Taruh di bandara karena hampir semua orang minum kopi,” katanya.
