Danantara Ungkap Sentimen: Menembus Dinamika IHSG di Era Ekonomi Digital

Jajaran pengurus Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam Meet The Team Danantara Indonesia di Jakarta, Senin (24/03/2025). ANTARA/Muhammad Heriyanto/pri.

Kepengurusan Danantara

Di tengah tekanan eksternal yang kuat, pelaku pasar di dalam negeri mencermati momentum penting dari sisi kebijakan, diumumkannya struktur kepengurusan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Komposisi kepengurusan Danantara dinilai akan mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun institusi sovereign wealth fund yang tangguh dan dihormati secara global.

Ekspektasi terhadap Danantara memang cukup besar. Sebagai lembaga pengelola dana investasi jangka panjang,

Danantara diharapkan mampu mendorong arus masuk modal asing ke sektor-sektor strategis seperti infrastruktur, energi baru dan terbarukan, manufaktur hijau, serta teknologi digital.

Pasar menunggu komitmen nyata dari Danantara, karena struktur kelembagaan yang solid saja belum cukup untuk menahan gejolak jangka pendek, namun bisa menjadi fondasi penting bagi pemulihan pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Kepala Badan Pelaksana (CEO) BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani menilai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) saat peluncuran Danantara bukan karena pasar merespons negatif Danantara.

Rosan menjelaskan saat itu IHSG di beberapa negara ASEAN, terutama yang emerging market, juga melemah.

Sementara Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto justru menilai, pengumuman struktur pengurus BPI Danantara tidak secara langsung memberikan sentimen kepada IHSG.

Rully menjelaskan bahwa pelemahan indeks saham Tanah Air hari ini lebih dipengaruhi pesimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Hari ini lebih banyak saham-saham yang cenderung spekulatif yang menyebabkan pelemahan indeks. Sementara saham-saham yang terkait Danantara hari ini mengalami penguatan, seperti BMRI dan BBRI.

Secara umum memang tekanan pasar masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Tetapi investor dengan horizon jangka panjang justru melihat momen seperti ini sebagai peluang akumulasi.

Prinsip diversifikasi dan disiplin investasi tetap menjadi strategi utama. Saham-saham berfundamental kuat, terutama di sektor perbankan nasional, masih menunjukkan daya tahan tinggi.

Bank-bank besar seperti BCA, BRI, dan Mandiri tercatat memiliki permodalan kuat, kualitas aset yang terjaga, dan pertumbuhan kredit yang masih positif, menjadikannya pilar penting dalam stabilitas sistem keuangan nasional.

Pasang Iklan di Divi Pro Media