Deflasi Pertama dalam 25 Tahun di Indonesia: Mengungkap Makna dan Dampaknya

Dua pramuniaga berbincang saat menunggu calon pembeli di pusat perbelanjaan di Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (11/10/2024). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2024, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,12 persen secara bulanan (month to month) yang berlangsung selama lima bulan berturut-turut dari Mei hingga September 2024 menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia sedang mengalami tekanan. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Sinyal ekonomi

Deflasi sendiri merupakan kondisi ketika harga barang dan jasa mengalami penurunan dalam jangka waktu tertentu.

Meski terdengar menguntungkan bagi konsumen karena daya beli meningkat, deflasi yang berlarut-larut bisa menjadi sinyal bahaya bagi perekonomian, terutama jika disebabkan oleh lemahnya permintaan dan investasi.

Meskipun demikian, dalam konteks Indonesia sebenarnya bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan berlebihan. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro berpendapat deflasi yang terjadi pada Februari, baik secara tahunan maupun bulanan (0,48 persen month-to-month/mtm), sebagian besar disebabkan oleh faktor sementara, bukan perubahan mendasar dalam dinamika harga.

Intervensi pemerintah, seperti diskon tarif listrik 50 persen dan pengendalian harga pangan, telah berhasil menekan inflasi. Namun, ketika kebijakan-kebijakan ini mulai berkurang, ada kemungkinan tekanan harga akan kembali muncul dalam beberapa bulan mendatang

Meski harga yang diatur mengalami penurunan yang tajam, inflasi inti tetap menunjukkan tren peningkatan. Menurutnya, perkembangan ini menunjukkan masih ada tekanan harga global, terutama karena depresiasi rupiah dan kenaikan harga emas.

Memang jika ditelisik lebih dalam, pada Februari 2025, beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap deflasi adalah penurunan harga energi, terutama listrik, serta koreksi harga pangan akibat peningkatan pasokan.

Pemerintah memberikan diskon tarif listrik sebesar 50 persen kepada pelanggan dengan daya 450 VA hingga 2.200 VA selama dua bulan pertama tahun ini.

Kebijakan ini menekan indeks harga konsumen karena listrik memiliki bobot cukup besar dalam perhitungan inflasi. Selain itu, harga beberapa komoditas pangan, seperti beras, tomat, dan cabai merah mengalami penurunan akibat panen yang lebih baik dan peningkatan pasokan.

Hal ini berdampak pada turunnya harga di pasar domestik, yang pada akhirnya mendorong deflasi lebih jauh.

Namun, ada sisi lain dari fenomena ini yang perlu dicermati lebih dalam. Jika deflasi terjadi karena penurunan daya beli dan melemahnya aktivitas ekonomi, maka ini bisa menjadi masalah serius.

Data BPS menunjukkan bahwa inflasi inti masih berada di level 2,48 persen, yang berarti tekanan harga dari sisi permintaan belum benar-benar melemah.

Namun, jika tren penurunan harga terus berlanjut dan mempengaruhi investasi serta produksi, maka dampaknya bisa lebih dalam dari sekadar penyesuaian harga.

Indonesia tetap saja harus belajar dari Jepang atas peristiwa the lost decade yang menjadi peringatan bahwa deflasi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan siklus yang sulit diputus.

Dalam konteks Indonesia, deflasi yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kebijakan dan peningkatan pasokan daripada melemahnya daya beli secara drastis.

Namun, ini bukan berarti kita berdiam diri saja. Langkah-langkah konkret harus segera diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan tren deflasi ini tidak berlanjut menjadi fenomena berkepanjangan yang merugikan.

Pemerintah perlu lebih aktif dalam menjaga keseimbangan antara stimulus fiskal dan stabilitas harga.

Insentif listrik yang diberikan jelas membantu masyarakat dalam jangka pendek, tetapi kebijakan seperti ini sebaiknya disertai dengan langkah lanjutan untuk memastikan permintaan tetap stabil.

Salah satunya adalah dengan mempercepat proyek infrastruktur dan investasi yang bisa membuka lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kemudian, Bank Indonesia juga harus mempertimbangkan langkah kebijakan moneter yang lebih fleksibel. Jika tren deflasi terus berlanjut, maka penyesuaian suku bunga bisa menjadi opsi untuk mendorong investasi dan konsumsi.

Namun, langkah ini perlu dipertimbangkan dengan hati-hati agar tidak memicu ketidakseimbangan dalam sektor keuangan.

Sementara itu, dunia usaha harus mulai bersiap menghadapi kemungkinan perubahan pola konsumsi.

Jika masyarakat menunda belanja karena ekspektasi harga akan terus turun, maka dunia usaha perlu mencari cara untuk tetap menjaga permintaan.

Strategi promosi yang lebih kreatif, diversifikasi produk, dan efisiensi operasional bisa menjadi solusi agar bisnis tetap tumbuh di tengah tekanan deflasi.

Pasang Iklan di Divi Pro Media