Deflasi Pertama dalam 25 Tahun di Indonesia: Mengungkap Makna dan Dampaknya
Rekomendasi konkret
Beberapa rekomendasi konkret bisa diimplementasikan dalam jangka pendek dan menengah untuk mengantisipasi potensi stagnasi atau resesi.
Pemerintah, di antaranya bisa mendorong sektor riil dengan mempercepat realisasi belanja modal negara untuk proyek infrastruktur dan energi terbarukan.
Sektor manufaktur dan UMKM juga perlu diberikan dukungan, baik dalam bentuk insentif pajak maupun kemudahan akses pembiayaan agar mereka tetap dapat beroperasi dengan optimal.
Dalam sektor keuangan, perbankan perlu memastikan bahwa kredit tetap mengalir ke sektor-sektor produktif.
Jika deflasi berlanjut, ada risiko bahwa masyarakat dan dunia usaha akan lebih memilih menyimpan uang daripada membelanjakannya, yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.
Oleh karena itu, kebijakan perbankan yang lebih proaktif dalam menyalurkan kredit ke sektor riil menjadi sangat penting.
Untuk jangka panjang, Indonesia perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada stimulus jangka pendek, tetapi juga pada inovasi dan peningkatan daya saing.
Pengembangan industri berbasis teknologi, investasi dalam riset dan pengembangan, serta kebijakan yang mendukung transformasi ekonomi digital bisa menjadi langkah strategis untuk memastikan ekonomi tetap tumbuh meskipun menghadapi tekanan harga.
Ada satu aspek lain yang perlu diperhatikan, yaitu faktor psikologis dalam ekonomi. Ekspektasi masyarakat terhadap harga bisa berpengaruh besar terhadap pola konsumsi dan investasi.
Jika masyarakat percaya bahwa deflasi hanya sementara dan ekonomi akan kembali stabil, maka mereka cenderung tetap berbelanja dan berinvestasi.
Namun, jika ekspektasi berubah menjadi pesimistis, maka siklus deflasi bisa menjadi lebih sulit dihentikan. Oleh karena itu, komunikasi yang jelas dari pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor kunci dalam mengelola sentimen pasar.
Maka menjadi kabar baik ketika platform komunitas UKMINDONESIA.ID yang didirikan Dewi Meisari Haryanti menyelenggarakan survei mandiri melibatkan 4.500 responden UMKM dan hasilnya, sebanyak 3.200 responden atau sekitar 71 persen dari peserta survei mengaku optimistis masih bisa meningkatkan keuntungan pada Ramadhan tahun ini.
Ini menjadi sinyalemen positif bahwa UMKM masih bisa meraup untung setelah melihat tren pemesanan ulang dari pelanggan, ini sekaligus menunjukkan masih ada daya beli yang bertumbuh.
Pada akhirnya, deflasi Februari 2025 bukanlah sekadar angka statistik, tetapi cerminan dari dinamika ekonomi yang lebih kompleks.
Jika ditangani dengan tepat, fenomena ini bisa menjadi bagian dari siklus ekonomi yang sehat, di mana harga menyesuaikan diri dengan keseimbangan baru.
Namun, jika dibiarkan tanpa strategi yang jelas, deflasi bisa menjadi awal dari tantangan ekonomi yang lebih besar.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang tepat, langkah moneter yang terukur, serta peran aktif dunia usaha dan masyarakat, Indonesia bisa melewati tantangan ini dengan baik dan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan. (Hanni Sofia/Antara) ***
