Pidato Perdana Presiden Prabowo Subianto: Mengajak Bangsa Bersatu Mewujudkan Cita-Cita Bersama
Pidato Perdana Presiden Prabowo Subianto: Mengajak Bangsa Bersatu Mewujudkan Cita-Cita Bersama
JAKARTA, divipromedia.com – Presiden ke-8 Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato pertamanya dengan penuh semangat setelah resmi dilantik. Acara yang berlangsung di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, dihadiri oleh 19 kepala negara dan 19 kepala pemerintahan, serta 15 utusan khusus dari negara-negara sahabat, menunjukkan dukungan internasional yang kuat terhadap Indonesia.
Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti berbagai tantangan dan ancaman yang dihadapi bangsa, termasuk komitmennya untuk memerangi korupsi dan mendorong konsolidasi di antara seluruh elemen masyarakat. Ia mengajak semua komponen bangsa untuk bersatu dalam mewujudkan cita-cita Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta menegaskan janji untuk terus berjuang demi kemerdekaan Palestina.
“Pada hari yang istimewa ini, kita berkumpul dalam suasana yang penuh kehormatan. Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para kepala pemerintahan dan perwakilan negara sahabat yang telah hadir di tengah kesibukan mereka,” ungkap Prabowo dengan nada haru.
Lebih lanjut, ia menegaskan, “Di hadapan majelis yang terhormat ini, dan yang terpenting, di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, saya, Prabowo Subianto, bersama Gibran Rakabuming Raka, telah mengucapkan sumpah untuk mempertahankan Undang-Undang Dasar kita, melaksanakan semua undang-undang dan peraturan yang berlaku, serta berbakti kepada negara dan bangsa.”
Beberapa waktu yang lalu, di hadapan majelis yang terhormat ini, di hadapan seluruh rakyat Indonesia, dan yang terpenting di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, saya, Prabowo Subianto, bersama saudara Gibran Rakabuming Raka, telah mengucapkan sumpah untuk mempertahankan Undang-Undang Dasar kita, melaksanakan semua undang-undang dan peraturan yang berlaku, serta berbakti kepada negara dan bangsa.
Sumpah ini bukan sekadar kata-kata; ini adalah komitmen yang kami pegang teguh dengan rasa tanggung jawab dan sepenuh jiwa. Kami bertekad untuk menjalankan kepemimpinan di Republik Indonesia dengan tulus, mengutamakan kepentingan seluruh rakyat Indonesia, termasuk mereka yang tidak memilih kami. Kepentingan bangsa dan rakyat akan selalu kami utamakan di atas segala golongan dan kepentingan pribadi.
Kita menyadari tantangan dan rintangan yang dihadapi bangsa Indonesia di tengah dinamika dunia yang terus berubah. Karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada kita sangatlah besar, luasnya wilayah daratan dan lautan, serta kekayaan alam yang melimpah. Sumber daya alam ini sangat penting untuk kehidupan manusia di abad ke-21 dan seterusnya.

Namun, di tengah segala karunia ini, kita harus berani menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada di depan kita. Saya mengajak saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk menjadi bangsa yang berani, bangsa yang tidak takut menghadapi rintangan dan ancaman. Sejarah kita adalah sejarah keberanian dan pengorbanan. Bukan hanya para pemimpin, tetapi juga keberanian rakyat yang menghadapi berbagai tantangan, bahkan invasi dari bangsa lain.
Kemerdekaan kita bukanlah hadiah. Ia diraih dengan pengorbanan yang luar biasa, terutama dari rakyat kita yang paling miskin, mereka yang berjuang dan memberi makan kepada pejuang-pejuang kita. Kita tidak boleh melupakan bahwa saat perjuangan kemerdekaan, kita tidak memiliki anggaran, APBN, atau gaji untuk pasukan kita. Yang memberi makan kepada para pejuang adalah para petani di desa-desa, nelayan, dan pekerja, mereka yang telah mendirikan Republik Indonesia.
Saat ini, saya mengajak saudara-saudara, terutama para pemimpin dari berbagai kalangan cendikiawan, ulama, pengusaha, pemimpin politik, pemuda, dan mahasiswa untuk bersama-sama berani menghadapi tantangan-tantangan yang ada.
Mari kita jadikan keberanian dan semangat juang sebagai landasan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara kita. Bersama, kita bisa mengatasi segala rintangan demi Indonesia yang lebih sejahtera.
Hari ini kita dihadapkan pada tantangan besar, baik dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri. Kita harus berani mengakui bahwa banyak rintangan yang kita hadapi sebenarnya berasal dari sikap dan kelalaian kita. Kurangnya kewaspadaan dan ketidakmampuan dalam mengelola kekayaan serta sumber daya yang kita miliki menjadi penghambat besar bagi kemajuan kita.
Mari kita mulai dengan introspeksi. Kita perlu berani menatap diri sendiri dan mengoreksi kesalahan kita. Realitas menunjukkan bahwa masih terdapat banyak kebocoran, penyimpangan, dan korupsi yang mengancam masa depan kita, anak-anak kita, dan generasi mendatang. Terlalu banyak anggaran yang tidak tepat sasaran, kolusi antara pejabat publik dan pengusaha nakal, serta praktik-praktik yang tidak mencerminkan semangat patriotisme.

Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang belum merasakan hasil kemerdekaan. Banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, anak-anak yang berangkat sekolah dalam keadaan lapar, dan mereka yang tidak memiliki pakaian layak. Sebagai pemimpin, kita harus lebih dari sekadar terkesan dengan angka-angka statistik yang menggembirakan; kita harus melihat gambaran yang lebih luas dan mengakui tantangan yang ada.
Kita boleh merasa bangga menjadi bagian dari G20 dan mengklaim posisi sebagai ekonomi terbesar ke-16 di dunia, tetapi kita harus jujur: kemiskinan dan masalah gizi masih menjadi ancaman nyata bagi rakyat kita. Banyak yang belum mendapatkan pekerjaan yang layak, dan banyak sekolah yang tidak terurus dengan baik. Ini adalah tantangan yang harus kita hadapi bersama.
Mari kita berani melihat kenyataan dan bertindak. Kita harus merespons dengan sikap proaktif, tidak hanya berbangga atas prestasi yang telah diraih. Kita tidak boleh menjadi seperti burung unta yang mengubur kepala di pasir. Kita harus berdiri tegak, menatap ancaman dengan keberanian, dan bersama-sama mencari solusi.
Saya telah mencanangkan bahwa Indonesia harus segera mencapai swasembada pangan. Ketergantungan pada sumber makanan dari luar sangat berisiko, terutama dalam keadaan krisis. Kita harus mampu memproduksi kebutuhan pangan untuk seluruh rakyat Indonesia, dan saya yakin dalam 4-5 tahun ke depan, kita dapat mencapai swasembada pangan dan bahkan menjadi lumbung pangan dunia.
Kita juga harus fokus pada swasembada energi. Di tengah ketegangan global, kita tidak bisa bergantung pada pasokan energi dari negara lain. Kita diberkahi dengan sumber daya alam yang melimpah, seperti kelapa sawit yang dapat diolah menjadi bahan bakar, serta berbagai tanaman lainnya. Kita juga memiliki sumber energi terbarukan yang perlu dikelola dengan baik, seperti energi geotermal, batu bara, dan energi air.
Pemerintah yang saya pimpin akan fokus pada pencapaian swasembada energi. Kita akan memanfaatkan teknologi untuk mengelola air dan memastikan bahwa setiap bantuan subsidi tepat sasaran, sampai kepada keluarga-keluarga yang benar-benar membutuhkan. Dengan teknologi digital, kita dapat menjangkau mereka dengan lebih efisien.

Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk mengatasi tantangan ini, memastikan kesejahteraan seluruh rakyat, dan menciptakan masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang.
kita berkumpul dengan satu tujuan mulia, memastikan anak-anak kita mendapatkan asupan gizi yang cukup, minimal satu kali sehari. Kita berkomitmen untuk mewujudkan hal ini, karena kita percaya bahwa setiap anak berhak atas masa depan yang lebih baik. Dengan menjamin perlindungan bagi mereka yang paling rentan, kita bergerak menuju kesejahteraan sejati dan kemakmuran yang hakiki.
Untuk mencapai cita-cita ini, kita harus mengoptimalkan semua komoditas yang kita miliki. Hilirisasi dan penambahan nilai dari komoditas tersebut adalah langkah penting untuk memperkuat perekonomian kita. Hasilnya, rakyat kita dapat menikmati kehidupan yang lebih sejahtera.
Saya ingin mengingatkan kita semua akan pentingnya memberantas korupsi. Kita harus berani menghadapi tantangan ini dengan perbaikan sistem dan penegakan hukum yang tegas, termasuk melalui digitalisasi. InsyaAllah, dengan langkah-langkah ini, kita dapat mengurangi korupsi secara signifikan. Namun, keberhasilan ini memerlukan contoh nyata dari seluruh pemimpin. Ing ngarso sung tulodo, artinya, pemimpin harus menjadi teladan.
Seperti pepatah mengatakan, “Jika ikan busuk, busuknya dimulai dari kepala.” Oleh karena itu, semua pejabat, dari berbagai tingkatan, harus menunjukkan kepemimpinan yang bersih dan transparan. Kita harus memulai dari atas, diiringi penegakan hukum yang tegas dan adil. Kita semua percaya, dengan tekad yang kuat, kita bisa menghapus kemiskinan dari bumi Indonesia.
Memang, sasaran ini tidaklah mudah, bahkan banyak yang meragukannya. Namun, pemimpin yang baik dan berani akan menerima tantangan ini dan berusaha menjadikannya mungkin. Bangsa yang berani adalah bangsa yang mampu mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.

Di tengah cita-cita besar kita, mari kita ciptakan suasana kebersamaan, persatuan, dan kolaborasi. Kita butuh pemimpin yang bijaksana, mengerti akan budaya dan sejarah bangsa, serta mencintai tradisi kita. Kita harus merangkul demokrasi yang sesuai dengan karakter bangsa kita, yang dilandasi oleh hikmat dalam musyawarah dan perwakilan.
Kedaulatan rakyat harus diletakkan di puncak, sebagai landasan negara kita, Pancasila. Mari kita jaga demokrasi yang santun, di mana perbedaan pendapat tidak menimbulkan permusuhan. Mari kita koreksi satu sama lain tanpa cacian, bertarung tanpa kebencian, dan berkompetisi tanpa kecurangan. Demokrasi kita harus bebas dari kekerasan dan provokasi, menciptakan suasana yang damai dan harmonis.
Hanya dengan persatuan dan kerja sama, kita bisa mencapai cita-cita yang diwariskan oleh para leluhur kita. Kita impikan bangsa yang gemah ripah loh jinawi, di mana rakyat hidup sejahtera, menikmati keadilan, dan merasakan kemerdekaan.
Saudara-saudara, mari kita ingat bahwa kekuasaan sejatinya milik rakyat. Pemimpin ada untuk melayani, dan rakyat harus bebas dari ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kebodohan, penindasan, dan penderitaan.
Saat ini, masih ada di antara kita yang berusia di atas 70 tahun tetapi masih menarik becak. Ini bukanlah tanda kemerdekaan yang sejati. Kemerdekaan akan terwujud ketika rakyat merasakan dan menikmati hak-haknya dengan layak. Mari kita bekerja keras dan berjuang tanpa lelah. Kita harus menjaga semua kekayaan kita agar tidak jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Semua kekayaan yang kita miliki harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Meskipun mencapai tujuan ini tidak mudah, kita bisa melakukannya jika bersatu dan bekerja sama. Mari kita bangun masa depan bersama, menganggap setiap individu, terlepas dari suku, agama, atau golongan, sebagai bagian dari keluarga besar Indonesia.

Mari kita sambut semangat persatuan. Setelah kita berjuang bersama di arena ini, mari kita kembali bersatu. Saya ingat momen ketika Presiden Joko Widodo mengalahkan saya, dan setelah itu, beliau dengan bijaksana mengajak saya untuk bersatu. Saat ini, saya berdiri di sini sebagai pemenang dan ingin mengajak kita semua untuk bersatu kembali demi Indonesia tercinta.
Dalam menghadapi tantangan dunia internasional, Indonesia memilih jalur bebas aktif, tanpa terikat pada pakta militer manapun. Kita berkomitmen untuk menjalin hubungan baik dengan semua negara. Saya telah menegaskan berulang kali, Indonesia ingin menjadi tetangga yang baik. Filosofi yang kita pegang adalah, ‘seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.’
Prinsip ini mengarahkan kita untuk menjalin persahabatan dengan seluruh bangsa, sembari tetap teguh pada nilai-nilai kita: antipenjajahan, antirasialisme, dan antiapartheid. Kita belajar dari sejarah pahit penjajahan yang pernah kita alami, di mana kita pernah dipandang rendah. Kita ingat dengan jelas prasasti-prasasti yang mengingatkan kita akan masa kelam tersebut.
Oleh karena itu, kita harus solid dalam membela mereka yang tertindas di seluruh dunia. Kita mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Indonesia telah mengirimkan bantuan yang signifikan, termasuk tim medis yang beroperasi di Gaza dan Rafah. Kami berkomitmen untuk mengirimkan lebih banyak bantuan dan mengevakuasi mereka yang terluka, terutama anak-anak yang trauma akibat perang.
Kita tidak melupakan jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan kita. Bung Karno, Bung Hatta, dan banyak pahlawan lainnya telah berkorban demi Indonesia yang kita nikmati hari ini. Kita berterima kasih kepada mereka yang telah meletakkan dasar ideologi negara kita, Pancasila, dan kepada para pemimpin yang telah mengarahkan bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Kita menghargai kontribusi Presiden Soeharto dalam menjaga ideologi Pancasila dan memperkuat fondasi Indonesia modern. Terima kasih kepada Presiden Habibie yang membuka jalan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepada Presiden Abdurrahman Wahid yang mencontohkan toleransi antaragama dan antarsuku.

Kita juga berterima kasih kepada Presiden Megawati yang mampu menyelesaikan krisis ekonomi pasca 1998 dan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memimpin bangsa kita melalui masa sulit seperti tsunami dan konflik di Aceh.
Kini, mari kita ucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Kepemimpinan mereka dalam menghadapi berbagai krisis, termasuk pandemi Covid-19, menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Di saat semua orang menuntut lockdown, beliau berfokus pada kesejahteraan rakyat, terutama mereka yang bergantung pada upah harian.
Akhir kata, saya mohon doa dan dukungan saudara-saudara semua. Mari kita bangun Indonesia di atas fondasi yang telah dirintis oleh para pendahulu kita. Mari kita akui dan perbaiki kekurangan kita, hentikan dendam, hilangkan kebencian, dan bangun kerukunan serta gotong royong yang menjadi kepribadian bangsa kita.
Kami siap melanjutkan estafet kepemimpinan, bekerja keras menuju Indonesia Emas—bangsa yang kuat, merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Kita tidak akan mengganggu siapapun, tetapi juga tidak akan membiarkan siapapun mengganggu kita.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita semua dan memberkati perjalanan kita. Kita juga berdoa agar para tamu agung kita kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan aman dan damai. (DM1)
Comments are closed.
