KDM Temui Siswi, Korban Pemotongan Rambut SMKN 2 Garut
BANDUNG, (Divipromedia.id) – Gubernur Dedi Mulyadi mengambil langkah cepat menyikapi kasus pemotongan rambut secara paksa terhadap belasan siswi di SMKN 2 Garut. Sebagai bentuk penanganan awal, Dedi menemui para korban beserta orang tua mereka untuk mendengar langsung keluhan dan memberikan dukungan pemulihan.
Dalam upaya memulihkan kondisi psikologis serta penampilan para siswi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memfasilitasi 18 siswi untuk merapikan kembali rambut mereka di salon profesional.
“Orang tua siswanya sudah bertemu saya, siswanya juga sudah bertemu. Jumlah semuanya 18 orang dan penanganannya sudah selesai. Kemarin mereka sudah saya kirim ke salon untuk merapikan rambut semuanya,” ujar Dedi Mulyadi, Jumat, (8/05).
Dedi menegaskan, proses penanganan kasus tersebut akan disampaikan secara terbuka kepada publik agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai langkah yang diambil pemerintah daerah.
“Nanti sore akan ada tayangan lengkapnya di YouTube saya supaya masyarakat bisa melihat secara jelas apa yang dilakukan,” katanya.
Kasus ini bermula pada Kamis (30/4/2026) di lingkungan SMKN 2 Garut. Saat sejumlah siswi baru menyelesaikan pelajaran olahraga, mereka didatangi guru bimbingan konseling (BK) yang kemudian melakukan razia terhadap rambut siswa yang dinilai berwarna mencolok.
Dalam razia tersebut, rambut sejumlah siswi dipotong menggunakan gunting secara langsung. Tindakan itu menuai kritik dari orang tua murid karena dianggap dilakukan tanpa pendekatan persuasif dan dinilai mempermalukan siswa, termasuk siswi yang mengenakan kerudung.
Kepala SMKN 2 Garut, Nur Al Purqon membenarkan adanya tindakan pemotongan rambut tersebut. Menurutnya, langkah itu dilakukan berdasarkan laporan terkait pelanggaran tata tertib mengenai pewarnaan rambut siswa.
“Terjadi pemotongan rambut anak yang diwarnai karena akumulasi laporan dari wali kelas dan masyarakat bahwa anak SMK rambutnya berwarna,” ujarnya.
Meski demikian, pihak sekolah mengaku telah melakukan komunikasi dengan para siswi dan keluarga yang terdampak serta menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut.
“Kami juga sudah meminta maaf kepada siswi tersebut,” pungkasnya.***
