Tinggalkan Dua Agenda Strategis, Dedi Mulyadi Hadiri Hari Jadi ke-543 Kabupaten Cirebon
KABUPATEN CIREBON, (divipromedia.com) – Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), menunjukkan komitmen besarnya terhadap pembangunan daerah dengan menghadiri langsung peringatan Hari Jadi ke-543 Kabupaten Cirebon, Senin (21/4).
Kehadiran KDM menjadi sorotan karena ia rela menangguhkan dua agenda penting bersama Panglima TNI dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur di Kertajati demi momen bersejarah di Cirebon.
“Ini spesial, saya memilih hadir di Hari Jadi Kabupaten Cirebon meskipun harus meninggalkan dua kegiatan strategis,” ujar Dedi kepada wartawan usai rapat paripurna peringatan hari jadi.
Menurutnya, peringatan ulang tahun daerah bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk membangun semangat kolektif dalam mendorong kemajuan wilayah.
“Bagi saya, ini adalah kerangka dasar membangun spirit bersama agar daerah bisa tumbuh lebih baik,” ungkapnya.
Dedi menilai Cirebon telah menunjukkan berbagai kemajuan, namun ia menekankan masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, terutama dalam hal infrastruktur dan penguatan identitas budaya.
“Cirebon sudah mengalami banyak kemajuan, tapi kita tidak boleh berpuas diri. Infrastruktur dari pusat kota hingga desa harus ditata kembali, tidak hanya jalan, tapi juga bangunan yang mencerminkan budaya lokal,” tegasnya.
Ia juga mendorong pelestarian budaya melalui pengembangan gaya busana khas Cirebon serta promosi kuliner lokal yang telah dikenal luas secara nasional.
“Pemerintah daerah perlu mengembangkan pakaian khas Kacirebonan, karena ini sudah jadi salah satu ikon budaya Jawa Barat. Bahkan rumah saya pun seluruh desainnya memakai motif mega mendung,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Dedi menyoroti pentingnya penataan kawasan wisata kuliner dan sentra batik seperti Trusmi agar lebih tertata dan menarik wisatawan.
“Makanan khas Cirebon sudah digemari secara nasional. Ke depan, lokasi-lokasi penjualannya harus ditata dengan baik. Termasuk kawasan wisata batik Trusmi yang butuh penataan menyeluruh,” jelasnya.
Tak lupa, ia juga meminta perhatian terhadap penataan pasar tradisional dan transportasi khas seperti becak agar tetap menghadirkan nuansa kota tua yang menjadi karakteristik unik Cirebon.
“Pasar tradisional dan becak-becaknya perlu ditata agar masuk ke Cirebon terasa berbeda, karena Cirebon punya nilai sejarah sebagai kota tua,” pungkasnya. (Afif/divi)
